Masih,
status gue masih tetap sebagai warga penghuni asrama di tempat gue bekerja. Ya,
seberapa sering pun gue mengeluh, toh tetap saja... ada banyak hal yang pada
akhirnya menjadi alasan untuk gue tetap
stay di asrama. Well, sepenuhnya
gue menyadari, gue bisa memilih untuk pergi, tapi toh akhirnya gue tetap pada
pilihan yang gue tahu akan mendatangkan banyak keluhan untuk diri gue sendiri.
Tapi bukan tentang hal tersebut yang
ingin gue sampaikan kali ini.
Hari
ini gue menjadi pekerja siang, yang berarti gue bekerja dalam shift siang, di
mana gue harus memulai bekerja dari pukul 14.00 s/d 20.00 (formalitasnya).
Berhubung gue hidup di asrama, dengan status yang pastinya masih single—dalam artian belum berkeluarga—maka
tidak banyak kewajiban yang harus gue lakukan ketika jam bekerja tidak menuntut
gue untuk beraktifitas sejak pagi.
Nah,
bisa lo semua bayangkan, seperti apa kehidupan di asrama ketika ada warganya
yang sedang tidak dalam kewajiban untuk berdinas pagi. Hampir bisa
digeneralisir, para warga ini akan mencoba untuk bangun semolor-molornya.
Benar, “mencoba” untuk bangun semolor-molornya. Artinya, meskipun mata kami
sudah melek semenjak subuh, maka untuk selanjutnya kami akan mencoba untuk
tidur kembali. Walaupun pada akhirnya sebagian memilih untuk bangun, maka sebagian
besar sebagian ini pun pada akhirnya akan menunggu jam dimulainya berkerja
dengan cara bermalas-malasan. Memang, mungkin perilaku seperti ini tidak hanya
terjadi pada orang-orang yang tinggal di asrama, bisa juga terjadi pada kalian
yang memang tinggal di rumah masing-masing. Hanya saja, yang bikin gue jadi “agak”
mikir adalah mengenai pola pikir yang menjadi alasan kenapa kami memilih untuk berperilaku
seperti ini.
Ada
banyak alasan memang, seperti, “Ah... ngapain juga bangun pagi-pagi, toh juga
kerja baru mulai siang nanti.” Atau, “Ya elah... kagak ada suami atau anak
apalagi mertua yang harus gue urus, ngapain juga bangun pagi-pagi?” Atau...
mungkin alasan ini, “Ah, sok rajin lo! Udah, molor aja lagi, gak ada gempa
bumi, kan?” Juga yang satu ini, “Berhubung hari ini kita gak kerja pagi,
udah... kita balas dendam aja karena kemarin-kemarin kita gak bisa bangun
siang.”
Nah,
yang gue sebutkan di atas adalah beberapa alasan yang acapkali muncul. Tapi...
ada satu alasan yang menurut gue tidak lagi terdengar simple, alasan yang (mungkin) bermaksud untuk tujuan preventif akan
tetapi... tanpa gue sadari sebelumya, ini cukup merugikan.
Ini
alasan yang gue maksud:
“Udah,
gue tidur aja. Nanti takutnya pas
kerja repot, mending simpen tenaga buat nanti.” Atau, “Gak, ah... gue gak mau
pergi. Memang sih, jam kerja masih lama, tapi gue takut nanti capek, trus kalau kerjaan ribet gimana?” Dan yang
paling parah adalah yang satu ini, “Gue gak mau pergi sebelum gue selesai
kerja, mending gue tidur aja, Gue mau simpen tenaga dan gue ngerasa gak tenang juga takut
kalau pergi padahal belum selesai kerja. Rasanya gima gitu... kalau seneng-seneng
sebelum jam kerja kelar. Hmmm... takut aja rasanya.”
Sekilas...
alasan di atas terasa sangat masuk akal. Tapi... gue harap lo bisa mencermati
satu kata yang gue bold, yang mana
kata itu muncul di setiap kalimat. Masalahnya bukan pada tujuan dari alasan
yang disampaikan, tapi masalahnya adalah karena satu kata yang jelas bermakna
negatif ini selalu saja muncul.
Takut.
Sebegitu kuatkah kata “takut” ini memenjara hidup lo? Jelas, ini tidak lagi menjadi
sekadar sebuah kata, akan tetapi memang telah menjadi sesuatu yang nyata, yang
hidup dengan merdeka di dalam diri lo. Akibatnya, lo merasa bersalah ketika lo
seharusnya bisa bersenang-senang. Mungkin akan ada banyak hal yang lebih
menarik dari sekadar tidur atau sekadar “menyimpan” tenaga di asrama yang bisa
saja lo temui seandainya saja si “takut” ini tidak lo pelihara baik-baik.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar