Rabu, 19 Maret 2014

Selamat Tinggal, Takut.


Masih, status gue masih tetap sebagai warga penghuni asrama di tempat gue bekerja. Ya, seberapa sering pun gue mengeluh, toh tetap saja... ada banyak hal yang pada akhirnya menjadi alasan untuk gue tetap stay di asrama. Well, sepenuhnya gue menyadari, gue bisa memilih untuk pergi, tapi toh akhirnya gue tetap pada pilihan yang gue tahu akan mendatangkan banyak keluhan untuk diri gue sendiri. Tapi bukan tentang hal tersebut  yang ingin gue sampaikan kali ini.

Hari ini gue menjadi pekerja siang, yang berarti gue bekerja dalam shift siang, di mana gue harus memulai bekerja dari pukul 14.00 s/d 20.00 (formalitasnya). Berhubung gue hidup di asrama, dengan status yang pastinya masih single—dalam artian belum berkeluarga—maka tidak banyak kewajiban yang harus gue lakukan ketika jam bekerja tidak menuntut gue untuk beraktifitas sejak pagi.

Nah, bisa lo semua bayangkan, seperti apa kehidupan di asrama ketika ada warganya yang sedang tidak dalam kewajiban untuk berdinas pagi. Hampir bisa digeneralisir, para warga ini akan mencoba untuk bangun semolor-molornya. Benar, “mencoba” untuk bangun semolor-molornya. Artinya, meskipun mata kami sudah melek semenjak subuh, maka untuk selanjutnya kami akan mencoba untuk tidur kembali. Walaupun pada akhirnya sebagian memilih untuk bangun, maka sebagian besar sebagian ini pun pada akhirnya akan menunggu jam dimulainya berkerja dengan cara bermalas-malasan. Memang, mungkin perilaku seperti ini tidak hanya terjadi pada orang-orang yang tinggal di asrama, bisa juga terjadi pada kalian yang memang tinggal di rumah masing-masing. Hanya saja, yang bikin gue jadi “agak” mikir adalah mengenai pola pikir yang menjadi alasan kenapa kami memilih untuk berperilaku seperti ini.

Ada banyak alasan memang, seperti, “Ah... ngapain juga bangun pagi-pagi, toh juga kerja baru mulai siang nanti.” Atau, “Ya elah... kagak ada suami atau anak apalagi mertua yang harus gue urus, ngapain juga bangun pagi-pagi?” Atau... mungkin alasan ini, “Ah, sok rajin lo! Udah, molor aja lagi, gak ada gempa bumi, kan?” Juga yang satu ini, “Berhubung hari ini kita gak kerja pagi, udah... kita balas dendam aja karena kemarin-kemarin kita gak bisa bangun siang.”

Nah, yang gue sebutkan di atas adalah beberapa alasan yang acapkali muncul. Tapi... ada satu alasan yang menurut gue tidak lagi terdengar simple, alasan yang (mungkin) bermaksud untuk tujuan preventif akan tetapi... tanpa gue sadari sebelumya, ini cukup merugikan.

Ini alasan yang gue maksud:
“Udah, gue tidur aja. Nanti takutnya pas kerja repot, mending simpen tenaga buat nanti.” Atau, “Gak, ah... gue gak mau pergi. Memang sih, jam kerja masih lama, tapi gue takut nanti capek, trus kalau kerjaan ribet gimana?” Dan yang paling parah adalah yang satu ini, “Gue gak mau pergi sebelum gue selesai kerja, mending gue tidur aja, Gue mau simpen tenaga dan gue ngerasa gak tenang  juga takut kalau pergi padahal belum selesai kerja. Rasanya gima gitu... kalau seneng-seneng sebelum jam kerja kelar. Hmmm... takut aja rasanya.”

Sekilas... alasan di atas terasa sangat masuk akal. Tapi... gue harap lo bisa mencermati satu kata yang gue bold, yang mana kata itu muncul di setiap kalimat. Masalahnya bukan pada tujuan dari alasan yang disampaikan, tapi masalahnya adalah karena satu kata yang jelas bermakna negatif ini selalu saja muncul.

Takut. Sebegitu kuatkah kata “takut” ini memenjara hidup lo? Jelas, ini tidak lagi menjadi sekadar sebuah kata, akan tetapi memang telah menjadi sesuatu yang nyata, yang hidup dengan merdeka di dalam diri lo. Akibatnya, lo merasa bersalah ketika lo seharusnya bisa bersenang-senang. Mungkin akan ada banyak hal yang lebih menarik dari sekadar tidur atau sekadar “menyimpan” tenaga di asrama yang bisa saja lo temui seandainya saja si “takut” ini tidak lo pelihara baik-baik. 

Perlu waktu yang tidak bisa gue katakan cepat, hingga akhirnya gue mulai “melek”. Gue putuskan untuk tidak lagi menajadi budak dari si “takut”. Perlahan gue pun belajar untuk memilah setiap alasan-alasan yang bisa saja merupakan pembenaran-pembenaran yang terbentuk karena rasa takut ini. Seperti hari ini, ketika jadwal kerja gue adalah shift siang, gue memutuskan untuk meninggalkan tempat tidur, keluar dari asrama dan melakukan hal yang jelas bisa memberikan kesenangan bagi diri gue dan jelas lebih produktif daripada berteman dengan si “takut”.

Maka tidak heran lagi ketika ada teman yang melontarkan komentar seeprti ini begitu dia melihat gue sudah rapi, bersiap-siap untuk pergi padahal gue harus dinas siang, “Wah, hebat lo... padahal dinas siang, tapi masih saja sempat pergi.” Dan gue cukup menanggapi komentarnya tersebut dengan sebuah senyuman untuk kemudian melenggang pergi. J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar