Kamis, 03 April 2014

Kau-kah Itu?





Kau-kah itu?
Yang membangunkanku,
Dari lelapnya mimpi—tentang kesepian.

Kau-kah itu?
Yang menghujaniku, bukan dengan peluk—melainkan tegas kata-kata—tiap kali kutukku akan hujan yang tak pernah bersalah padaku.

Kau-kah itu?
Dalam kaku yang tak pernah alpa, namun hangat tak pernah pudar.
Dalam kata yang tak pernah kau perpanjang, namun tatap yang buatku tak mampu lagi berbantah.
Dalam cinta yang tak pernah kau ucap, namun setia sadarkanku dari mimpi tentang sepi dan hampa.


Senja kembali turun...



Senja kembali turun,
Hingga ia—siang—tak lagi memihak.

Senja kembali turun,
Dan sebentar lagi, petang pun memelukmu, mendampingimu melepas lelah juga penatmu, juga menemanimu membungkus setiap rindu yang tak jua bisa ka sampaikan—hingga saat ini.

Sepanjang senja yang tiada akan pernah cukup untukmu menghitung rindu,
Hingga petang pun mungkin tak lagi cukup panjang untuk menemanimu mengemas rindu—di dalam kotak yang hingga kini tak juga kau kirimkan padanya.

Adakah esok, ketika petang pun mengalah pada pagi,
Rindu-rindu dalam kotak itu akan kau kirimkan?


Kini, senja pun masih menunggumu... menunggumu merapal rindu.