Hari
libur kali ini saatnya untuk gue menghilangkan kejenuhan yang semakin hari
semakin menguat di dalam diri gue. Jenuh akan rutinitas yang gue lalui setiap
hari. Ditambah lagi dengan status gue sebagai anak asrama di tempat gue
bekerja, yang mana berarti sedang bekerja atau pun sedang tidak bekerja, gue
tetap berada di lingkungan yang sama. Well, bagi mereka yang pulang-pergi kerja
harus menghabiskan waktu berjam-jam di jalan pasti akan berpikir, “Wah, enak
banget tinggal di asrama, gak harus mikirin ongkos transport dan gak harus
macet-macetan di jalan.”
Gue
amini sepenuh hati apa yang mereka sebutkan itu, dan memang hal-hal tersebut
harus gue syukuri. Ketika rekan-rekan lain sudah harus meninggalkan rumah
sedari pukul 05.00 pagi, gue masih bisa anteng
ngelonin guling sembari bergelung di dalam selimut. Begitu juga ketika jam
pulang kerja, gue hanya perlu pindah lantai untuk sampai di “istana” gue,
sedangkan rekan-rekan lain masih harus berjibaku dengan kemacetan, bising di
jalan raya, asap, apalagi kalau lagi musim hujan, wah... ketemu banjir pula,
tambah semangat deh rekan-rekan untuk bilang, “Gila! Enak banget lo tinggal di
asrama!”
Tapi
oh tapi... rekan-rekan tercinta, adakah dari kalian yang bersedia untuk sekilas
“melirik” sisi lain dari hidup di asrama?
Ketika
dengan semangatnya kalian berkata, “Hore! Saatnya pulang ke rumah!” maka gue
pun menyemangati diri sendiri untuk kemudian berkata, “Yeah... saatnya pulang
ke rumah, eh... maksud gue saatnya balik ke asrama.” Pulang dan balik adalah
dua kata yang memiliki makna sangat berbeda, sama berbedanya dengan makna rumah
dan asrama. Yah, you know what i mean,
laaah...
Atau,
ketika dengan wajah penuh senyum kalian berkata, “Wah, nyokap gue masak apa ya
hari ini?” atau kalimat sakti yang satu ini, “Saatnya ketemu suami/istri
tercinta...” atau juga, “Ah, gak sabar buat ngelonin anak gue,” maka gue pun
hanya bisa diam sembari berkata di dalam hati, “Baiklah... saatnya bertemu...
ehm... bertemu... yah, bertemu teman-teman asrama yang juga merupakan teman
kerja seruangan.” Miriiiiis sungguh. L
Percayalah,
ketika statusmu adalah sebagai penghuni asrama dengan waktu tinggal telah
melebihi satu tahun, maka kata “pulang” akan menjadi kata yang memiliki
sensitifitas cukup lebay! Serius, dampaknya cukup lebay dan alay. Coba kalian
cek di KBBI apa arti lebay dan alay? Well, kalau pun tidak kalian temukan, mari
kita buat persepsi bersama, dampak lebay dan alay di sini dimaksudkan sebagai
dampak yang bikin nyesek. Cukup jelas
bukan? Sip... lanjut!
Nah,
berhubung kejenuhan dan ke-sensitif-an gue sudah sampai pada tahap kronis, dan
berhubung gak ada sanak keluarga di Jakarta yang rumahnya bisa gue jadikan
tempat acuan untuk sebuah kata—pulang—maka gue pun memutuskan untuk jalan-jalan
sendiri. Ada banyak pilihan memang untuk menghilangkan kejenuhan, namun kali
ini gue lebih memilih untuk “Me Time”.
Peralatan
yang wajib gue bawa dalam “Me Time” kali ini adalah:
Yang
pertama dan pasti harus dibawa adalah uang, baik tunai ataupun dalam bentuknya
yang lain. Ngerti kan bentuk-bentuk lain yang gue maksud? Yang pasti tidak
dalam bentuk daun, kecuali lo mau dikatain gila ketika lo memilih untuk memakai
daun sebagai alat transaksi.
Kemudian payung. Berhubung musim saat ini
tidak jelas pergantiannya kapan, malas juga kalau tiba-tiba hujan dan gue harus
hujan-hujanan seperti artis-artis di film Bollywood. Ke-lebay-an dan ke-alay-an
gue gak sampai segitunya, sih.
Selanjutnya,
ada notebook lengkap dengan charger-nya. In case ada warung kopi yang bisa jadi tempat yang cukup asik buat nongkrong,
tangan gue suka gatal untuk menuangkan ke-sensitif-an gue dalam bentuk tulisan.
Kadang gue ngerasa punya potensi untuk jadi sastrawan, padahal... potensi gue
lebih ke arah tukang galau lagi pengen curhat lewat tulisan. Tapi, mikir
positif jauh lebih baik, toh?
Setelah
peralatan dipastikan lengkap, gue pun memulai aktifitas “pengusiran” kejenuhan.
Tujuan kali ini adalah Kota Tua. Kenapa gue memilih Kota Tua? Jujur, gue gak
tahu jawabannya dan gue malas untuk nyari tuh jawaban.
Gue pergi naik angkot dan berhubung gue sudah
ketularan virus phone-addicted, gak lupa gue setting lagu-lagu kesukaan gue di playlist smartphone. Tapi... kali ini gue atur dengan volume yang gak terlalu kenceng, jadi
gue masih bisa nguping pembicaraan orang-orang di sekitar. Kali ini gue gak mau
jadi apatis.
Perjalanan
pun di mulai. Gue naik angkot yang warnanya merah, sesuai dengan warna baju yang gue kenakan. Hmmm, bukan
berarti gue berusaha menyelaraskan warna angkot dengan warna baju, melainkan
memang kebetulan angkot yang sesuai berwarna merah.
Setelah
mendapatkan duduk (kebetulan) tepat di belakang sopir, mata gue pun mulai
menjelajah ke sekeliling. Hingga akhirnya gue menemukan pemandangan yang cukup
menarik dan gue rasa cukup pantas utuk gue share
di sini.
Pernah
gak kalian ngeluh kalau dikarenakan jadwal kerja yang padat, waktu kalian
bersama orang-orang tersayang menjadi sangat terbatas? Atau, keluhan karena
terlalu lelah bekerja, quality time
bersama keluarga pun menjadi sulit untuk didapatkan. Atau juga, mungkina ada
yang berpikir kalau untuk dapat bekerja tanpa aturan atau batasan jadwal, kita
harus menjadi seorang “Big-Boss”
dahulu, yang hanya perlu memerintah bawahan, untuk kemudian bisa menikmati
waktu bersama keluarga. Nah, kali ini... pemandangan yang gue lihat adalah
bantahan dari keluhan-keluhan di atas.
Di
depan gue, Si Bapak Sopir lagi kerja dong pastinya, nganterin kita para penumpang
yang kadang suka apatis. Saking apatisnya, malah ketika Si Bapak Sopir nanya
apakah ada yang turun di tempat A atau B atau C, dari sekian penumpang kagak ada
yang jawab, mentang-mentang bukan tempat yang di tuju. Well, walaupun kali ini
kedua telinga gue kesumpel headset,
gue masih bisa jawab, “Gak ada, Baaaang.”
Nah,
selain sedang bekerja, tampaknya Si Bapak Sopir juga lagi bertamasya keliling
kota walaupun hari ini bukan hari minggu dan tamasyanya juga gak naik delman,
tapi naik angkot yang mungkin bagi dia dirasakan sebagai mobil pribadi. Seorang
wanita dan seorang anak laki-laki berumur kurang lebih tiga tahun yang duduk
tepat di sebelah Pak Sopir gue identifikasi sebagai istri dan anak dari Pak
Sopir. Kesimpulan ini gue ambil berdasarkan fakta-fakta di bawah ini:
Berhubung
mereka menggunakan bahasa yang terdengar seperti bahasa Jawa, maka pengambilan
kesimpulan tidak berdasarkan kata-kata, melainkan body-language si sopir, si wanita, dan si anak. Sembari menjalankan
tugasnya, si bapak sopir masih sempat mengelus-ngelus kepala si bocah yang anteng
duduk sembari dipeluk si wanita. Sesekali si bapak sopir juga menyempatkan
tangannya untuk menyentuh pundak si wanita yang dibalasnya dengan senyuman.
Diselingi tawa renyah mereka menyaksikan tingkah si anak yang tidak ada
lelahnya mengoceh sembari memamerkan mobil mainannya.
Memang,
bantahan kita kemudian adalah tidak semua jenis pekerjaan memungkinkan kita
untuk menjalaninya sebagaimanan Si Bapak Sopir ini. Namun yang perlu kita lihat
adalah bagaimana Si Bapak Sopir memilih caranya untuk menikmati hidup. Semua
hanyalah tentang cara kita memilih. Hidup selalu memberikan pilihan-pilihan
yang seringkali kita eliminasi berdasarkan pandangan pembenaran, yang mana
kemudian menghasilkan keadaan yang terlihat seperti tidak ada lagi pilihan di
dalam hidup ini.
Kali
ini, yang gue perhatikan adalah para penjual jasa penyewaan sepeda yang
(menurut gue) terlihat tersenyum tulus ketika menawarkan sepeda mereka. Sedikit
obrolan ringan bersama mereka, kemudian setelah berkeliling gue memutuskan untuk membeli kerak telor dan
duduk di pojokan yang memungkinkan gue memandang ke sekitar dengan leluasa.
Perhatian
gue jatuh kepada para penjual mainan yang mungkin terpaksa memilih menjajakan
mainan mereka di tempat yang langsung beratapkan langit. Panas, woi! Tapi
mereka tetap menajalani pekerjaan mereka. Oke, gue tahu... mungkin, risiko
pekerjaan mereka tidak seperti pekerjaan kalian, beban pekerjaan mereka tidak
seperti pekerjaan kalian dan akhirnya kalian menanamkan pemahaman bahwa mereka
cukup pantas bekerja dengan atap langit seperti itu. Tapi toh tujuan mereka
bekerja pasti sama dengan kita, demi menyambung hidup dan menyenangkan orang-orang
tersayang. Lalu, kenapa kita tidak bersyukur saja karena kita masih memiliki
pekerjaan yang tidak mengharuskan kita berpanas-panasan? Tentu daftar keluhan
kita akan berkurang...
Kejenuhan akan rutinitas pekerjaan, beban
kerja yang kian hari kian meningkat tidak dapat kita hilangkan, namun bukan
berarti itu semua bisa menjadi alasan untuk kita kehilangan kesempatan untuk
menikmati hidup. Tuntutan pekerjaan juga acapkali menjadikan pola pikir kita
menjadi begitu rumit, kemudian kita mulai kehilangan kendali untuk menciptakan
kebahagiaan bagi diri kita sendiri.
Kenapa
tidak kita putuskan untuk “melek” dan melihat ke sekitar kita? Tentu akan ada
banyak hal sederhana di sekitar yang bisa kita jadikan contoh dalam
menyederhanakan cara kita berpikir.
Seorang
teman dekat pernah berkata pada suatu kesempatan, “Setiap masalah mungkin
memang diciptakan dengan solusi yang mengikuti di belakangnya. Akan tetapi...
masalah tidak diciptakan dengan memiliki batas. Jadi... untuk apa kita
menyia-nyiakan hidup kita dengan berpikir terlalu rumit?”
Ah...
seperti saya terka sebelumnya, tulisan ini dimulai dengan topik yang tidak akan
terselesaikan pada akhir halaman. Tapi... tidak ada pihak yang akan dirugikan
bukan? Ini bukan karya tulis yang harus mengikuti prosedur baku, bukan juga
tulisan yang gue tulis untuk diikutsertakan dalam kompetisi. Ini hanyalah
tulisan yang gue buat ketika gue asik nongkrong
di salah satu warung kopi dan tangan gue mulai gatel. Dari pada gue
ngegaruk-garukin badan, apalagi ngegaruk-garukin orang lain, mending gue nulis
ngalor-ngidul, kan?
Well...
nikmatilah hari-hari kalian, dengan demikian kalian pun akan menikmati hidup.
Persetan dengan masalah, toh setan pun tidak mempermasalahkan masalah?
Hehehe... gak nyambung, kan? Enjoy your
life, Guys... J

Tidak ada komentar:
Posting Komentar